Posts

Showing posts from August, 2018

Mungkin Ini Tak Perlu

Beberapa hubungan berawal dari ketidakpastian. Hubungan yang kamu bilang tulus, tak mustahil di tengah perjalanan harus putus. Tak apa, memutuskan untuk membangun hubungan berarti sepaket dengan kemungkinan kehilangan. Tapi ingat! Kita bukan lagi anak kecil yang sengaja membangun sesuatu hanya untuk dirobohkan. Katakan jika ada yang salah dalam hubungan. Bukan sengaja lari agar dicari. Kamu pikir aku cenayang yang bisa tahu isi kepala seseorang. Aku pun berhak menanyakan apapun yang membuatku tak nyaman. Membuatku menebak-nebak yang kamu rasakan tak akan memperbaiki keadaan. Menunggu siapa yang paling merasa dibutuhkan sungguh tak ada yang harus dibanggakan. Bukankah kita ini sepasang? Saling terbuka tentang perasaan adalah satu hal yang penting dalam hubungan. Tenang, menurunkan egomu tak membuatmu terlihat kalah di depanku. Jika kamu selalu ingin menang dalam perdebatan, lalu apa yang kamu dapatkan? Apa benar itu yang kamu inginkan? Coba tanya lagi pada dirimu sendiri....

Masa Depan

Berat ya ternyata... Aku berupaya selalu ada setiap kau terluka. Aku berusaha mengabulkan segala permintaan agar kupastikan kau tak kekurangan. Tapi nyatanya itu tak pernah cukup untukmu. Kuberikan semua terbaik yang bisa kulakukan. Tapi itu juga tak cukup untuk menggenapkan. Aku manusia, kadang aku kelelahan. Tapi amarahku pun seringkali tak membuatmu merasa kehilangan. Lalu, entah sejak kapan dia datang dan mulai mengacaukan. Dia datang begitu saja dan membuatmu nyaman tanpa banyak berjuang. Sementara, hanya demi membuatmu tetap tertawa, harus kulakukan berbagai aksi cinta yang kadang berbalik dari sisi diriku yang sebenarnya. Tidak adil rasanya... Kau masih saja bertingkah seolah kau mencintaiku, tapi tak pernah satu pun kata cinta yang kau ucapkan untukku. Kau tunjukkan betapa kau tak bisa kutinggalkan, tapi tak pernah sekali pun kau berikan rasa hangat sebuah pelukan. Jangan banyak alasan, bukankah seharusnya cinta tak pernah jadi terasa memberatkan? Jika...

Sampai Kehabisan Kata

Bicaralah... Haruskah kita seperti ini? Sudah tiga belas hari tepatnya. Kurasakan ada batas diantara sorot mata yang biasa melekat. Dan juga jemari yang kehilangan pasangannya untuk saling menggenggam erat. Serta pelukan hangat yang kini  tak lagi ku dapat. Kepergianmu seringkali tak meninggalkan pesan apa yang harus kulakukan. Hanya menitipkan ketidakpastian yang sengaja tergantung di awan-awan. Diammu juga sering kau jadikan sebagai senjata andalan. Tapi setelah berkali-kali terjadi, aku baru mulai menyadari. Kenapa hanya aku yang kebingungan ketika ada yang salah dengan hubungan? Kenapa hanya aku yang begitu kehilangan jika kamu bertingkah demikian? Kenapa harus aku? Aku memang memilih bertahan, tetapi bukan berarti kamu bisa meremehkan. Memilih tidak hengkang dalam hubungan bukan berarti sanggup disepelekan. Dan saat ini, pergi bukan lagi menjadi pilihan, tetapi sebuah keharusan. Toh hal-hal yang berusaha aku jelaskan pun tak pernah sekalipun...

Jadilah Seperti Ini

Aku suka kamu begini saja. Lalu aku diam sejenak, berpikir. Apa yang aku suka dari kamu? Aku suka kamu dari caramu menanggapi semua pertanyaanku. Iya, aku suka kamu dari pemikiranmu meskipun sebenarnya selalu saja berbeda denganku. Aku suka karena kamu tak pernah mau mengalah jika berbeda pendapat. Aku suka bercerita panjang lebar, kamu tetap mendengarkan dengan sabar. Kamu selalu menganggapku berbeda dari siapapun yang sebelumnya kamu kenal sangat dekat. Katamu aku aneh karena tak pernah memintamu untuk menjadi apapun sesuai dengan ekspektasiku. Kan sudah ku bilang aku suka kamu begini saja. Jika mereka yang ada dihidupmu dulu tak suka kamu begitu sibuk, aku lebih suka kamu menyibukkan diri untuk mengejar mimpi-mimpimu. Jika mereka selalu memintamu selalu ada, aku lebih senang sesekali kamu ajak untuk hidup mandiri. Jika mereka marah kalau pesannya kamu balas lama-lama, aku bersyukur hidupmu tak melulu soal dunia maya. Seperti yang selalu kamu bilang lebih baik mata saling...

Yang Aku Tidak Tahu

Aku tahu ketika dua orang memutuskan untuk bersama akan ada dua hal yang akan terjadi pada akhirnya. Tetap bersama atau benar-benar berpisah. Aku pun sudah menyiapkan diri jika hal kedua akan terjadi sejak awal kita berjumpa. Bukan apa-apa, hanya saja aku ingin menyelamatkan apa yang mudah dipatahkan. Bukankah aku harus tetap membagi bahagiaku jika nantinya akan ada yang menggantikanmu? Yang aku tidak tahu hanyalah hal kedua terjadi pada kita secepat ini. Serapi apapun aku sudah menyiapkan diri, ternyata aku masih kalah dengan rasa sakit hati. Tapi aku mulai mengerti, bahwa jika yang bersama akhirnya harus berpisah, berarti satu diantaranya tidak benar-benar jatuh cinta. Katanya merasa nyaman jika berdua bukan berarti itu cinta. Jadi, aku pasti tidak akan memaksamu. Ah tidak….aku sungguh ingin menahanmu. Namun percuma saja, bagaimana bisa berjalan jika yang ingin melangkah tidak sepasang. Aku cukup tahu diri. Seandainya dulu aku…. Kenapa aku ini? Beribu kali aku menga...

Bicara Soal Memilih

Jika diingat lagi, lebih dari hitungan jari kita telah lama menjalin kasih. Sudah banyak hal pula yang bersama telah kita lewati. Mulai dari hal-hal bahagia yang membuahkan banyak tawa, hingga kadang rasa bosan yang beberapa kali sempat mendera lalu akhirnya saya memilih untuk bersembunyi dan menenangkan diri, berharap kamu peka dengan apa yang saya rasakan. Puncaknya adalah rasa kecewa yang menjadi-jadi. Rasa yang timbul karena apa yang didepan mata terkadang tak sesuai dengan ekspektasi. Jika sudah begini, memilih pergi adalah hal yang mudah dilakukan dan nampak sangat menyenangkan. Tak perlu lagi menangisi sesuatu yang tidak saya harapkan malah sengaja kamu lakukan. Bukankah hal yang manusiawi jika saya menghindari apa saja yang dapat menyederai hati. Tapi saat kecil, kata ibu sedikit luka tidak masalah. Lalu pecundang sekali jika saya menyerah hanya karena ini. Dengan kekacauan yang ada di otak dan hati, saya tak pernah jernih berpikir bahwa saya sendiri yang memilih untuk ...

Sampaikan Selamat Tinggal

Sejak detik dimana kita bersepakat, saya lupa jika ada kata yang disebut “perpisahan”. Karena begitu hebatnya kamu mencuri semua perhatian, meluluhkan kekakuan dan membuat saya merasa paling diistimewakan. Bersamamu saya mengenal arti pengharapan. Denganmu saya bisa merasakan kebahagiaan dan kesakitan dalam waktu yang berdekatan. Terima kasih… Semua berjalan menyenangkan hanya dalam hitungan bulan. Sekali lagi saya benar-benar lupa jika tercipta kata yang disebut “perpisahan”. Hingga waktu dimana kamu menghilang dan kamu memilih pergi meninggalkan, saya sadar perpisahan adalah kata paling menyakitkan. Tapi tahukah kamu yang lebih menyakitkan dari sebuah perpisahan? Sikapmu kepadaku lah jawabannya, perpisahan tanpa menyampaikan selamat tinggal. Saya sempat menjadikanmu rumah yang nyaman untuk pulang, dan kamupun pernah menjadi tempat bersandar paling menenangkan. Tapi itu tak berlangsung lama sampai kamu memutuskan untuk menghilang perlahan tak beralasan. Rahasia apa yang sedemiki...

Berbahagia

Hai.. Sudah lama rasanya tak bercerita tentang kamu. Kupikir aku akan secepatnya lupa, ternyata aku mutlak salah. Boleh kuceritakan sebentar saja mengapa aku memutuskan untuk memberi sedikit jarak antara kita? Iya hanya sedikit saja, karena nyatanya setiap hari kita masih berjumpa meskipun tak lagi bertegur sapa. Aku melihatmu disana beberapa hari terakhir ini, berbahagia sendiri bukan lagi karena aku. Hmm..Aku juga pernah mendapatimu tertawa lepas, dan lagi lagi bukan karena leluconku. Dan kamu juga pasti sudah bisa menentukan tujuanmu sendiri bukan lagi karena mauku. Meskipun pasti kamu sudah lupa, katamu dulu kamu tak akan bisa bahagia jika tak bersamaku. Jika kamu tahu, semua itu yang menjadi alasanku menjauh darimu. Aku hanya ingin kamu yang lebih dewasa. Tak segalanya tentang aku, mauku, dan karena aku. Aku ingat sekali dulu kamu sering menanyakan mengapa aku tak seperti wanita lain yang semua maunya harus dituruti atau pilihannya harus diikuti. Sekarang bolehkah ...

Terenggut

Kapan terakhir bahagia? Entahlah. Rinduku telah pergi begitu jauh, meninggalkan setumpuk kenangan yang sebenarnya telah lama dan usang. Masih jelas teringat bagaimana ego menyulut ambisimu untuk terus berjalan pergi. Sementara aku hanya bisa meringkuk dalam kesakitan, mendengar samar-samar setiap jejak kaki yang kau buat hingga tubuhmu tak lagi tertangkap oleh mataku. Sesekali aku pernah menemuimu dalam tidur setengah sadarku, tetapi bayanganmu terlalu sukar untuk kugapai dan tanganmu terlalu dingin untuk kujabat lagi. Ragamu sudah lama pergi, kau juga sudah tak lagi memberi arti. Aku bahkan sangat yakin kau tak ingin menengokku lagi. Tapi mengapa kau tak henti menyiksaku dengan ingatan yang sering hadir dengan nada pilu yang menusuk telingaku. Tidakkah cukup bahagia yang kau renggut terus menerus dariku? Jangan berani menggangguku jika kau tak akan pernah memberikan bahagiaku kembali atau aku akan membenci yang dulu benar-benar kucintai. Biarkan aku sendiri mencari rindu yan...

Menceritakannya Lagi

Malam itu aku tak bisa tidur. Kemudian aku mulai untuk menyapamu terlebih dahulu lewat pesan. Tak sampai 2 menit saja kamu langsung membalas pesanku. Dan disana kamu mengatakan bahwa kamu terbangun karena suara pesan masuk yang berdengung begitu kencang. Kamu bukan orang yang suka begadang, beberapa kali pernah ketiduran ditengah-tengah kubercerita tapi kamu masih berusaha untuk menemaniku setiap waktu. Kamu bertanya “kenapa lagi dengan dia?”, kamu nampaknya sudah sangat hafal harus bagaimana jika aku menyapamu dini hari begini. Mungkin kamu juga hafal dengan apa yang akan kuceritakan padamu. Lalu mungkin kamu juga akan menjawab dengan jawaban yang sama. Hari itu aku ingin bertemu denganmu berdua saja. Aku ingin menceritakan semuanya. Tentang laki-laki yang sering kusebut-sebut namanya dalam pesan singkat kita. Kamu menjemputku seperti biasa, tanpa banyak bertanya. Kamu membawaku menuju café yang biasa kita kunjungi untuk menghabiskan malam berdua. Memesankan minuman saja karena ka...

Di Sudut Lapangan

Selamat beristirahat, aku tahu kamu kelelahan… Aku terus berjalan menuju pintu masuk stadion dengan buru-buru sambil terus berharap babak pertama belum dimulai. Maafkan, hampir saja aku datang terlambat.   Suatu kesalahan jika harus melewatkan pertandinganmu meskipun beberapa detik saja. Kamu sudah berada disamping lapangan, begitu sibuk berbincang dengan teman-temanmu. Beberapa menit lagi pertandingan segera dimulai. Kamu begitu tampan dengan kostum futsal kebanggaanmu yang sempat kamu pamerkan padaku beberapa hari lalu. Nomor yang tertulis dipunggungmu ternyata sesuai dengan permintaanku malam itu. Entah mengapa caramu memperlakukanku selalu membuatku canggung atau ini hanya kebetulan saja. Aku terus memperhatikanmu di tribun penonton. Aku sengaja memilih barisan paling depan agar kamu tak perlu susah payah mencariku, haha khayalan apa lagi? Sanggup mengagumimu diam-diam saja sudah lebih dari cukup untukku. Disini pun aku hanya bisa menunggu senyum tulusmu yang selalu...

Tidakkah Aku Saja

Malam ini cahaya bulan terasa lebih redup. Bulan terlihat semakin rapuh. Mungkin bulan sudah mulai lelah menangkap sinar matahari yang terlalu bercahaya. Suatu kebetulan yang ajaib, seakan semua perasaanku tergambarkan oleh redupnya cahaya bulan malam ini. Gadis yang rapuh hatinya untuk terus menunggu. Aku merindu? Bisa jadi…Aku baru saja menapakkan kaki di kota ini untuk kembali, meskipun tidak terlalu lama tapi beberapa minggu tidak bertemu denganmu membuat waktu berjalan begitu lama. Aku mencarimu disini… Salahkah jika aku rindu pada lelaki yang aku sendiri tak tahu dia meletakkanku di hati sebelah mana? Tak bolehkah merindukan lelaki yang entah menyebutku sebagai apa? Menyalahkanku jika rindu ini terjadi begitu saja? Entah ini yang keberapa kalinya aku kembali diingatkan agar memikirkan lagi untuk melanjutkan semua ini denganmu. Begitu luar biasa kah kita hingga menjadi topik utama perbincangan mereka? :) Lalu apa lagi yang bisa aku lakukan selain mendengarkan dan melempa...

Menjagamu dalam Diam

Selamat Malam, Entah dimana kamu berada sekarang, entah bersama siapa kamu malam ini…Semoga kamu baik-baik saja. Malam ini aku sendirian, mengendap di kamar bersama tugas-tugas yang berserakan meminta untuk segera diselesaikan. Begitu saja aku mengingat sedikit tentang kita, aku dan kamu pernah menghabiskan malam seperti ini berdua saja. Kita pernah melewati malam yang terasa begitu indah dengan hal-hal sederhana. Kita duduk tanpa jarak, kamu terpaksa menemaniku melihat bintang-bintang meskipun kamu terus meledekku seperti anak kecil yang terus memaksamu malam itu. Aku memulai dengan menceritakan tentang duniaku, kuceritakan tentang ayah dan kakak laki-lakiku yang kukatakan berulang-ulang sosok mereka ada pada dirimu. Kuceritakan bagaimana aku merindukan ayahku malam itu, tapi kamu malah memberiku predikat sebagai anak manja. Kuceritakan tentang koleksi mainanku yang kamu balas dengan protesan-protesan kenapa aku tak bisa sedewasa usiaku. Lalu kamu buka obrolan yang sedikit serius h...

Satu Kata, Istimewa

Tanpa sengaja aku terbangun tengah malam karena penyakit batuk dan flu yang telah menggangguku tiga hari belakangan ini. Seperti malam-malam sebelumnya, mata ini sulit kupejamkan lagi meskipun kepala ini terasa agak berat. Aku tampak begitu lemah ya malam ini. Sudah kupaksa mata ini terpejam, tapi sama saja. Lalu kuraih laptopku yang masih menyala diatas meja. Biar kuhabiskan malam ini dengan menceritakan lagi tentang pria baru yang mencoba mengalihkan perhatianku darimu. Pria yang pernah kuceritakan itu. Pria yang cukup tersenyum sudah membuatku terkagum, cukup tertawa sudah membuatku menganga, meskipun hanya lewat sudah membuatku terpikat. Nyaliku ciut. Dari dulu memang aku pengecut untuk hal-hal seperti ini. Bukankah wanita hanya bisa menunggu? Tapi aku tak pernah memberikan kode apapun, bagaimana dia bisa peka? Aku hanya berani memandangnya dari sudut kolam, sudut favoritku karena beberapa kali aku bisa melihatnya dengan sangat jelas dari sini. Aku selalu memberi jarak cukup ...

Surat (Sebenarnya) Rahasia

untuk pria yang terasa semakin jauh Surat ini sengaja kutulis untukmu karena aku ingin menyampaikan sesuatu padamu. Sejak hari itu, setelah kamu meninggalkan aku dengan berjejak banyak tanya, tanpa disadari kita tak lagi saling berucap sepatah kata pun. Semua pertanyaanku tak kau gubris sama sekali, entah mengapa… Kupikir surat ini adalah satu-satunya cara untuk berbicara lewat kata denganmu. Kau bisa membacanya tanpa bertemu aku, dan aku tak perlu tahu. Aku menulis ini dengan penuh harap kau masih mau membacanya. Aku tak apa jika kau tak mau mendengarkan aku atau tak mau menjawab pertanyaanku lagi. Tapi bacalah dulu agar  kau paham! Apa kabarmu? Kudengar dari teman-temanmu katanya akhir-akhir ini kau terlihat sering murung. Kau lebih sering menyendiri tanpa ingin ditemani. Kau memilih diam lalu menghilang. Kenapa? Apa kamu terlalu sibuk dengan segala macam kegiatanmu hingga kuliahmu berantakan karena kamu tak pandai membagi waktu? Atau karena tak ada lagi yang meng...

Aku Sedang Mencoba, Semoga Saja

Ketika aku menulis ini, aku masih berusaha sekuat tenaga menahan sesak yang tak tahu penyebabnya apa. Malam ini terasa begitu dingin, tak lagi sehangat malam-malam sebelumnya saat kamu sengaja merangkulku dengan erat tanpa ragu, melindungiku tanpa aku meminta, kamu senantiasa menjagaku dari sadisnya tiupan angin malam. Tiba-tiba saja terlintas semua tentang kamu. Kamu yang dulunya tidak termasuk deretan pria yang kukagumi. Kamu yang dengan lancang mengambil hatiku dan menyimpannya dengan penuh hati-hati. Tapi itu dulu… Aku masih sangat ingat bagaimana saat-saat menyedihkan ketika kita sepakat untuk mengakhiri hubungan yang tak pernah jelas ini.   Aku merasa kita tak lagi melewati jalan yang sama. Kita berjalan dengan arah yang berbeda dan kamu juga mulai merasakan hal yang sama. Bukan aku atau kamu, tapi “kita”. Dengan begitu banyak pertimbangan, berdebat ini itu, saling menyalahkan, lalu kita memutuskan. Kita sama-sama tak perlu memaksakan perasaan karena kita tak ingin sali...

Bagaimana Aku Bisa Lupa

Kira-kira sudah dua minggu sejak aku mengatakan bahwa hubungan kita memang benarnya harus diakhiri saja. Iya aku yang meminta, bukan kamu. Tapi kamu mengiyakan saja kan, jadi kukira kamu setuju karena memang pertengkaran hebat sehari sebelum kita putus tak akan ada titik terangnya. Tolong, jangan berpikir ini karena aku ingin pergi hanya saja pertahananku sudah melemah. Aku sudah lelah dengan banyak permintaanmu. Kamu sering memintaku untuk meluangkan waktu untukmu ditengah kesibukan kuliahku. Aku mengalah. Kita bertemu. Lalu kamu luapkan semua amarahmu disana, di tempat kita bertatap muka. Harusnya pertemuan kita untuk melepas rindu, bukan malah menambah pilu. Apa ini caramu? Jika harus diulang lagi dari awal, dari pertama kita berkenalan. Kita memang sudah beda. Beda suku, beda prinsip, beda cara berpikir, beda sudut pandang, beda kesukaan, beda hobi, beda selera film, beda selera musik, dan banyak perbedaan yang harusnya bisa saling melengkapi. Katamu dulu juga begitu, kamu me...

Sekali Lagi

Hai! Lagi-lagi ini tentang kamu yang sempat membuat luka dan trauma. Luka yang semakin hari semakin terasa perih dan terlihat lebih parah dari sebelumnya. Aku membiarkanmu membaca tulisan ini karena ucapan yang terlempar dari bibirku tak pernah kamu dengarkan lagi belakangan ini. Kamu hanya perlu tahu…Aku telah lama merawat dan menunggu lukaku untuk kering serta berharap tak memberikan bekas apapun itu. Meskipun butuh waktu yang lama tapi aku cukup berhasil untuk mencoba mengeringkannya. Memang belum sembuh seutuhnya, setidaknya usahaku tak akan sia-sia. Sekarang aku sudah terbiasa, bahkan sangat terbiasa tanpa ada kamu lagi dalam cerita hidupku setiap hari. Karena kamu sendiri yang memilih untuk tak ingin kunanti. Kini aku terlihat lebih kuat dari biasanya, aku tak lagi terpuruk dalam penyesalan yang terus-menerus mengejar, karena kamu yang membuatku terlatih untuk jatuh berkali-kali hingga aku lihai untuk menyembuhkan lukaku sendiri. Untuk yang kesekian kali, ini tentang kamu dan i...

Cukupkan Saja

Aku menulis ini ketika kamu berada tepat di depan mataku. Aku tak berani bicara padamu bahkan menatap wajahmu saja penuh ragu-ragu. Aku sengaja melarikan semua perasaanku lewat tulisan meskipun kita berjarak hanya beberapa sentimeter, aku tak ingin menulikan telingamu dengan segala rengekanku. Aku sudah berjanji tak lagi akan mengusik tiap waktumu. Sudah hampir lama kita berada di tempat yang sama melainkan hanya diam dan bisumu yang kudapati. Sesekali mata kita bertemu tapi hanya tatapan kosong yang kutemui. Tatapan itu sudah tak berasa, sudah tak lagi memiliki arti. Meski begitu aku tak ingin beranjak barang sejengkalpun dari sini. Aku tak ingin melewatkan kesempatan langka bisa sedekat ini denganmu, padahal aku sangat sadar dengan semakin lama memandangmu maka semakin mengikis luka yang sudah ada sebelumnya. Aku sudah mengaku kalah, tapi masih saja kau serang dengan berbagai tanda yang menimbulkan banyak tanya. Aku tak cukup hebat untuk tahu semua yang kamu mau. Tunggu dulu….ini...

Mengenalmu Sebentar

Sejak aku sempat mencicipi rasa kehilangan yang abadi, aku tak pernah bertahan lama menjalin hubungan dengan beberapa pria. Rasanya tak akan pernah aku menemukan sosok seperti dia pada raga yang berbeda. Sangat sulit memulai untuk mempercayakan banyak rahasiaku yang sering kuceritakan padanya dulu. Tapi aku percaya pertemuan kita tak sebuah kebetulan, Tuhan pasti telah merencanakannya untuk mengganti semua yang telah hilang. Kamu berbeda, dan sampai kapanpun   tak akan pernah sama, tapi entah kenapa perangaimu begitu mudah untuk kuterima. Aku ingin mengenalmu bukan hanya melihatmu dari jauh. Aku sudah lelah lompat dari beberapa hubungan yang kuanggap main-main. Pria ini sudah cukup dewasa untuk tak lagi main-main. Aku hanya adik tingkatmu yang kau anggap lugu tiba-tiba menyukai pribadimu, kadang aku memang tak tahu malu. Kedatanganmu mampu mengisi bagian-bagian kecil diotakku dan menjalar menuju relung hatiku. Sebagai anak baru, aku hanya bisa mencuri-curi wajahmu dari sudut yan...

Jatuh pada Cinta yang Sama

Coba   jelaskan kenapa kamu tiba-tiba datang setelah dua tahun lalu tak pernah ada kabar. Sekarang wajahmu tampak berbeda ya, mungkin karena kamu lupa mencukur kumismu yang terlihat lebih tebal karena sibuk dengan tugas kuliahmu. Atau kamu sengaja membiarkan rambut-rambut tipis itu tumbuh liar di dagumu agar kamu tampak lebih dewasa. Entahlah…dari kita SMA kamu memang tak pernah memperhatikan penampilanmu. Tapi ada beberapa dari kamu yang tak berubah, senyummu masih sehangat waktu pertama kulihat saat upacara penerimaan siswa baru disekolah. Kamu kemana saja dua tahun ini? Aku tak pernah paham mengapa Tuhan membuat pertemuan saat itu begitu ajaib hingga kamu memilihku sebagai sahabat sedekat waktu itu. Aku tak pernah lupa saat-saat indah di SMA, saat dengan sengaja aku menangkap sinar matamu yang bercahaya diantara banyak pasang mata yang lain. Menunggumu mengangkat tangan kananmu ketika kakak kelas kita membaca daftar absen kelas demi tahu namamu. Aku sungguh mengagumi ketua...

Harusnya Aku Sudah Terbiasa

Kepalaku agak terasa berat, mungkin karena beberapa hari ini aku terlalu memaksakan mataku agar tetap terjaga hingga subuh demi memburu waktu yang tepat untuk menuangkan segala perasaanku dalam tulisan. Sejak mengenalmu, aku lebih rajin untuk menulis dan membaginya diblog pribadiku karena sosokmu selalu menarik untuk kugambarkan lewat rangkaian kata dalam cerita. Kamu adalah salah satu alasan kenapa aku tak pernah kehabisan momen untuk kuceritakan. Untuk pria yang tak bisa bersuara pelan, apa kabar? Sejak namamu tak lagi ada pada deretan paling atas disetiap aplikasi chattingku, aku sudah memaksakan diriku untuk terbiasa tanpa perhatianmu dan tetap bisa bernafas bebas tanpa kabarmu. Memang tak mudah untuk gadis yang dulu selalu menunggu pesan sangat singkatmu agar bisa terbiasa tanpa hadirmu dalam bentuk apapun secepat ini. Jika aku tak mampu menyerang balik rindu yang seringkali menggerutu, aku selalu memulai ritualku untuk membaca kembali semua pesan singkatmu yang dulu-dulu. K...