Cukupkan Saja
Aku
menulis ini ketika kamu berada tepat di depan mataku. Aku tak berani bicara
padamu bahkan menatap wajahmu saja penuh ragu-ragu. Aku sengaja melarikan semua
perasaanku lewat tulisan meskipun kita berjarak hanya beberapa sentimeter, aku
tak ingin menulikan telingamu dengan segala rengekanku. Aku sudah berjanji tak
lagi akan mengusik tiap waktumu. Sudah hampir lama kita berada di tempat yang
sama melainkan hanya diam dan bisumu yang kudapati. Sesekali mata kita bertemu
tapi hanya tatapan kosong yang kutemui. Tatapan itu sudah tak berasa, sudah tak
lagi memiliki arti. Meski begitu aku tak ingin beranjak barang sejengkalpun
dari sini. Aku tak ingin melewatkan kesempatan langka bisa sedekat ini
denganmu, padahal aku sangat sadar dengan semakin lama memandangmu maka semakin
mengikis luka yang sudah ada sebelumnya.
Aku
sudah mengaku kalah, tapi masih saja kau serang dengan berbagai tanda yang
menimbulkan banyak tanya. Aku tak cukup hebat untuk tahu semua yang kamu mau.
Tunggu dulu….ini karena aku yang tak peka untuk membaca isyaratmu atau memang
kamu yang tak memberikan kode apapun kepadaku? Entahlah… Aku masih belum ahli
untuk memahami semua kemisteriusanmu dari dulu. Semakin lama aku bertambah
lemah tapi kamu masih saja tak peduli dengan hati yang kamu lempari dengan
sakit yang bertubi-tubi. Sampai kapan kamu mau bersikap begini? Membungkam lalu
pergi dengan sebab yang tidak kamu jelaskan. Bicaralah padaku jika semua yang
selama ini kuanggap benar ternyata salah besar dimatamu. Jangan terus kau sembunyikan
senyummu yang tak sengaja kau tunjukkan untukku. Aku tak melihat lagi senyummu
untukku apalagi senyummu karena aku, mustahil rasanya…
Hei…Aku
menunggu senyummu, aku merindukan tawamu. Boleh kan?
Maafkan
sayang, sabarku sudah tidak bisa naik pada tingkat yang lebih tinggi. Aku lelah
dengan semua teka-teki menyusahkan yang kamu suguhkan. Aku terjebak pada
labirin yang membuatku merasa bersalah tiap kali akan melangkah. Semua yang ada
padamu kini terlihat sangat abstrak. Aku sudah menyerah untuk diuji lagi. Tak
mau kah kamu menyudahi permainan yang sudah membuatku kebingungan? Apa kamu
menungguku sampai bosan baru kamu datang memberi jawaban. Lagi-lagi kamu
membuat semuanya terlihat aku yang paling salah. Aku sudah terombang-ambing pada
ketidakpastian, sekarang aku terdampar pada penyesalan. Mengertilah kamu…bukannya
aku tak mencari, tapi sampai saat ini aku tak menemukan cara agar kamu mau
berucap barang sepenggal “hai” saja untuk membuat aku yang kebingungan menjadi
tenang. Cukup itu saja, aku tak ingin lebih. Apa kamu perlu air mataku untuk
membantu mencairkan hatimu yang beku?
Aku
tak tahu kenapa masih saja memperjuangkan yang sudah jelas lebih baik untuk
dilepaskan. Hanya saja semua yang diawali dengan baik-baik harusnya bisa
berakhir dengan baik-baik pula, meskipun jika baik-baik saja semuanya tak perlu
untuk diakhiri. Lihatlah! Gadis ini masih susah payah mengejarmu hanya untuk
memintamu mengembaikan semua sebaik yang dia mau.
Dewasalah
tampan! Kamu pasti tahu cara paling elegan untuk meluapkan segala emosimu
padaku. Jangan terus menyudutkan aku di sudut paling menyakitkan. Jangan terus
menatap aku dengan tatapan penuh kebencian. Aku tak sanggup melihatmu begini.
Dengarkan…Aku masih menunggu penjelasan jika kamu masih mampu menghargai
perasaan.
Comments
Post a Comment