Menceritakannya Lagi
Malam itu aku tak bisa
tidur. Kemudian aku mulai untuk menyapamu terlebih dahulu lewat pesan. Tak
sampai 2 menit saja kamu langsung membalas pesanku. Dan disana kamu mengatakan
bahwa kamu terbangun karena suara pesan masuk yang berdengung begitu kencang. Kamu
bukan orang yang suka begadang, beberapa kali pernah ketiduran ditengah-tengah
kubercerita tapi kamu masih berusaha untuk menemaniku setiap waktu. Kamu
bertanya “kenapa lagi dengan dia?”, kamu nampaknya sudah sangat hafal harus
bagaimana jika aku menyapamu dini hari begini. Mungkin kamu juga hafal dengan
apa yang akan kuceritakan padamu. Lalu mungkin kamu juga akan menjawab dengan
jawaban yang sama.
Hari itu aku ingin bertemu
denganmu berdua saja. Aku ingin menceritakan semuanya. Tentang laki-laki yang
sering kusebut-sebut namanya dalam pesan singkat kita. Kamu menjemputku seperti
biasa, tanpa banyak bertanya. Kamu membawaku menuju café yang biasa kita
kunjungi untuk menghabiskan malam berdua. Memesankan minuman saja karena kamu
sangat mengerti aku tak akan mau makan apapun jika sudah begini. Kamu membuka
perbincangan kita dengan “ Menangis saja, jangan ditahan…Jika sudah puas, baru
berceritalah” katamu dengan wajah tenangmu. Setiap kali kamu selesai mengatakan
itu, pasti aku langsung sesenggukan di bahumu, kadang juga memukul-mukul
lenganmu sambil mengucapkan sumpah serapah untuk laki-laki yang berhasil
membuat habis akal sehatku. Kamu terus mendengarkanku padahal kamu mungkin
sudah bosan karena semua yang aku ceritakan selalu sama seperti yang sudah-sudah.
Setelah aku puas menangis dan bercerita, aku akan mengatakan “ini tangisanku
yang terakhir kali, aku tak akan pernah begini lagi, aku tak akan kembali”.
Entah keberapa kali kalimat itu terdengar ditelingamu tiap akhir pertemuan
kita.
Lalu esoknya, aku akan
menceritakan bahwa dia berjanji tak akan mengulang kesalahannya lagi. Aku dan
dia sudah baik-baik saja. Aku akan terus bersama dia, mencoba untuk selalu
mengalah. Jika sudah begitu, kamu akan
mengatakan “jangan menangis lagi, semoga dia yang terbaik”. Beberapa minggu
kemudian aku akan melakukan hal yang sama, meminta untuk bertemu denganmu,
menangis, dan melakukan hal-hal yang sama persis seperti sebelumnya. Tapi kamu
tak pernah lelah, tak pernah berhenti menemani. Entah sebetulnya kamu memiliki
kekuatan apa.
Tapi itu dulu, lama sekali
sebelum kamu menemukan gadis itu. Gadis yang sepertinya lebih menarik dari aku.
Gadis yang barangkali lebih menyenangkan dibanding aku. Gadis yang kamu sayangi
sama seperti kamu menyayangiku dulu. Gadis itu beruntung sekali memilikimu
sekarang, kamu pasti akan terus menemaninya tanpa rasa bosan. Gadismu itu tentu
akan benar-benar mendapatkan bahagianya darimu.
Bukan salahmu jika akhirnya
kamu lebih memilih gadis itu. Aku saja yang terlalu bodoh untuk terus bertahan
dengan laki-laki yang egonya terlalu tinggi, yang hanya memikirkan bahagianya
sendiri. Memang aku yang terlalu tolol untuk sering menangisi dia, hingga
keberadaanmu sedekat itu selalu tertutup air mataku. Aku yang terlalu
sibuk mencari-cari kebahagiaan untukku padahal
sudah jelas-jelas ada didepan mata yaitu kamu.
Katamu tengah malam lalu,
sekarang aku harus terbiasa tanpamu karena waktumu tak lagi untuk aku seorang.
“Ada gadis yang lebih membutuhkan untuk kutemani setiap malamnya, yang
memberikanku kesempatan bercerita juga bukan hanya menjadikanku pendengar saja”
katamu malam lalu. Aku terdiam beberapa waktu. Kamu tersenyum. “Kamu masih
tetap bisa bercerita, tapi tak akan bisa sesering dulu” timpamu lagi. Aku masih
terdiam. Hanya ingin diam menikmati waktu bersamamu berdua saja. Sebelum
malam-malammu akan kamu habiskan dengan gadismu itu. Gadis yang sanggup
mengalihkan perhatianmu dariku.
Salam rinduku untukmu yang
dulu….
Comments
Post a Comment