Menjagamu dalam Diam

Selamat Malam,

Entah dimana kamu berada sekarang, entah bersama siapa kamu malam ini…Semoga kamu baik-baik saja. Malam ini aku sendirian, mengendap di kamar bersama tugas-tugas yang berserakan meminta untuk segera diselesaikan. Begitu saja aku mengingat sedikit tentang kita, aku dan kamu pernah menghabiskan malam seperti ini berdua saja. Kita pernah melewati malam yang terasa begitu indah dengan hal-hal sederhana. Kita duduk tanpa jarak, kamu terpaksa menemaniku melihat bintang-bintang meskipun kamu terus meledekku seperti anak kecil yang terus memaksamu malam itu. Aku memulai dengan menceritakan tentang duniaku, kuceritakan tentang ayah dan kakak laki-lakiku yang kukatakan berulang-ulang sosok mereka ada pada dirimu. Kuceritakan bagaimana aku merindukan ayahku malam itu, tapi kamu malah memberiku predikat sebagai anak manja. Kuceritakan tentang koleksi mainanku yang kamu balas dengan protesan-protesan kenapa aku tak bisa sedewasa usiaku. Lalu kamu buka obrolan yang sedikit serius hingga kita berdebat ini itu karena aku selalu melihat dari sisi yang berbeda dari apa yang kamu lihat. Bahkan kita terlalu berbeda…

Sampai saat ini aku masih sangat lancar jika harus menceritakan kembali tentang kita dulu. Aku masih sangat hafal kronologi dari awal kita bertemu. Cerita kita telah tertanam kuat di memori ingatanku, tak ada satupun hal yang sengaja aku lupakan. Jika kutumpahkan cerita kita dengan tulisan, entah berapa banyak tinta yang kuhabiskan untuk menulis. Karena aku tak akan melewatkan sedikitpun bahagiaku dulu bersamamu untuk kutuliskan. Sejak kita tak lagi saling menyapa lewat pesan, aku pernah berusaha untuk tak mengingat lagi tentang kita. Tapi sekuat apapun aku melupakan tentang kita, sekuat itu juga aku masih menyimpan sisa-sisa perasaan yang mulai meluas dengan sangat perlahan. Karena melupakanmu tak semudah api membakar kertas hingga menjadi abu. Aku pernah membatasi diriku untuk tak mencari tahu tentang kabarmu, tapi aku tak bisa dan dari awal memang tak yakin bisa.

Jika kamu tahu, aku masih menjagamu dalam segala diamku. Terkadang aku masih merindukanmu. Meski sering diabaikan, aku masih melakukan hal-hal yang dulu pernah kulakukan untukmu. Aku masih  mengingatkanmu belajar.  Aku masih sering menuliskan kata-kata semangat untukmu. Aku masih mencarimu. Aku masih sering memperhatikanmu. Aku masih memikirkanmu dalam lamunku. Semuanya kulakukan diam-diam hingga kamu tak pernah sadar bahwa sesungguhnya aku masih sangat peduli terhadapmu. Meskipun kita kembali menjadi aku dan kamu, biarpun tak lagi saling bercakap dan enggan untuk saling menatap. Aku masih untukmu. Meskipun ragaku tak dekat denganmu, kamu tak akan pernah kesepian karena semua perhatianku masih terpusat padamu.

Biasakah kamu mengajakku tertawa bersamamu? Aku sungguh merindukan momen itu….
Aku memang masih terluka karenamu, tapi kamu pernah menyembuhkan lukaku dulu. Pantaskah aku membencimu yang pernah menjadi penyembuhku?

Comments