Berbahagia
Hai..
Sudah lama rasanya tak
bercerita tentang kamu. Kupikir aku akan secepatnya lupa, ternyata aku mutlak
salah.
Boleh
kuceritakan sebentar saja mengapa aku memutuskan untuk memberi sedikit jarak
antara kita?
Iya hanya sedikit saja,
karena nyatanya setiap hari kita masih berjumpa meskipun tak lagi bertegur
sapa.
Aku melihatmu disana
beberapa hari terakhir ini, berbahagia sendiri bukan lagi karena aku. Hmm..Aku
juga pernah mendapatimu tertawa lepas, dan lagi lagi bukan karena leluconku.
Dan kamu juga pasti sudah bisa menentukan tujuanmu sendiri bukan lagi karena
mauku. Meskipun pasti kamu sudah lupa, katamu dulu kamu tak akan bisa bahagia
jika tak bersamaku.
Jika kamu tahu, semua
itu yang menjadi alasanku menjauh darimu. Aku hanya ingin kamu yang lebih
dewasa. Tak segalanya tentang aku, mauku, dan karena aku. Aku ingat sekali dulu
kamu sering menanyakan mengapa aku tak seperti wanita lain yang semua maunya
harus dituruti atau pilihannya harus diikuti. Sekarang bolehkah aku menjawab?
Karena kupikir kamu sudah cukup dewasa untuk memahami perkataanku ini.
Perhatikan atau boleh tak kamu baca bagian ini jika merasa sudah tak butuh
jawaban lagi. Kamu pria dua puluh satu tahun yang punya tujuan hidup sendiri,
benarkah? Hubungan kita dulu bukan semua milikku, tapi aku dan kamu. Bukankah
sebelum bersamaku kamu sudah punya tujuan-tujuan hidup yang tak melulu
menyertakan aku? Maka aku ingin kamu mengejarnya, bukan selalu menungguku.
Hubungan kita bukan penjara untuk mimpi masing-masing.
Aku tak lagi berharap
kamu mengerti tentang ini, yang kamu tahu pasti aku benar-benar ingin pergi. Bohong
jika berkata hati ini tak perih. Kini kamu telah menemukan arti dari bahagiamu yang
tak lagi bersamaku. Sedangkan aku hanya mampu tertawa dalam balutan luka dari
setiap canda yang kamu buat bukan untukku. Cukupkah untuk disebut bahagia?
Bahkan aku sudah kehilangan makna dari sebuah bahagia untuk diriku sendiri.
Aku salah.
Comments
Post a Comment