Sampaikan Selamat Tinggal
Sejak detik dimana kita
bersepakat, saya lupa jika ada kata yang disebut “perpisahan”. Karena begitu
hebatnya kamu mencuri semua perhatian, meluluhkan kekakuan dan membuat saya
merasa paling diistimewakan. Bersamamu saya mengenal arti pengharapan. Denganmu
saya bisa merasakan kebahagiaan dan kesakitan dalam waktu yang berdekatan.
Terima kasih…
Semua berjalan menyenangkan hanya dalam hitungan bulan. Sekali lagi saya benar-benar lupa jika tercipta kata yang disebut “perpisahan”. Hingga waktu dimana kamu menghilang dan kamu memilih pergi meninggalkan, saya sadar perpisahan adalah kata paling menyakitkan. Tapi tahukah kamu yang lebih menyakitkan dari sebuah perpisahan? Sikapmu kepadaku lah jawabannya, perpisahan tanpa menyampaikan selamat tinggal.
Saya sempat menjadikanmu rumah yang nyaman untuk pulang, dan kamupun pernah menjadi tempat bersandar paling menenangkan. Tapi itu tak berlangsung lama sampai kamu memutuskan untuk menghilang perlahan tak beralasan. Rahasia apa yang sedemikian apik kamu sembunyikan. Dalam waktu sendirian saya menanyakan apa yang salah pada diri sendiri hingga harus terlupakan seperti ini. Bukankah Tuhan memberi setiap manusia ingatan yang dapat menyimpan berbagai kenangan? Lalu tak adakah satupun kenangan baik yang dapat membuatmu berpikir untuk kembali dan sedikit saja menjelaskan.
Jika kita kembalikan lagi dari awal, tentu saja saya dan kamu tak bisa dianggap resmi selesai. Tak satu katapun yang keluar dari bibirmu untuk mengakhiri. Tolong jangan membuatku bingung memilih pergi atau tetap bertahan seperti ini. Akan sampai kapan kamu membuat hati ini terasa nyeri. Hingga detik ini, saya masih menunggu kamu yang entah kapan akan datang hanya untuk mematahkan segala harapan agar saya tak terlalu lama terjebak dalam ruang kenangan. Ucapan perpisahan paling menyakitkan pun akan lebih baik dari penantian tanpa kejelasan. Jika kamu ingin benar-benar pergi, jangan pernah lupakan ucapan selamat tinggal untuk menegaskan perpisahan.
Semua berjalan menyenangkan hanya dalam hitungan bulan. Sekali lagi saya benar-benar lupa jika tercipta kata yang disebut “perpisahan”. Hingga waktu dimana kamu menghilang dan kamu memilih pergi meninggalkan, saya sadar perpisahan adalah kata paling menyakitkan. Tapi tahukah kamu yang lebih menyakitkan dari sebuah perpisahan? Sikapmu kepadaku lah jawabannya, perpisahan tanpa menyampaikan selamat tinggal.
Saya sempat menjadikanmu rumah yang nyaman untuk pulang, dan kamupun pernah menjadi tempat bersandar paling menenangkan. Tapi itu tak berlangsung lama sampai kamu memutuskan untuk menghilang perlahan tak beralasan. Rahasia apa yang sedemikian apik kamu sembunyikan. Dalam waktu sendirian saya menanyakan apa yang salah pada diri sendiri hingga harus terlupakan seperti ini. Bukankah Tuhan memberi setiap manusia ingatan yang dapat menyimpan berbagai kenangan? Lalu tak adakah satupun kenangan baik yang dapat membuatmu berpikir untuk kembali dan sedikit saja menjelaskan.
Jika kita kembalikan lagi dari awal, tentu saja saya dan kamu tak bisa dianggap resmi selesai. Tak satu katapun yang keluar dari bibirmu untuk mengakhiri. Tolong jangan membuatku bingung memilih pergi atau tetap bertahan seperti ini. Akan sampai kapan kamu membuat hati ini terasa nyeri. Hingga detik ini, saya masih menunggu kamu yang entah kapan akan datang hanya untuk mematahkan segala harapan agar saya tak terlalu lama terjebak dalam ruang kenangan. Ucapan perpisahan paling menyakitkan pun akan lebih baik dari penantian tanpa kejelasan. Jika kamu ingin benar-benar pergi, jangan pernah lupakan ucapan selamat tinggal untuk menegaskan perpisahan.
Comments
Post a Comment