Bagaimana Aku Bisa Lupa
Kira-kira sudah dua minggu
sejak aku mengatakan bahwa hubungan kita memang benarnya harus diakhiri saja.
Iya aku yang meminta, bukan kamu. Tapi kamu mengiyakan saja kan, jadi kukira
kamu setuju karena memang pertengkaran hebat sehari sebelum kita putus tak akan
ada titik terangnya. Tolong, jangan berpikir ini karena aku ingin pergi hanya
saja pertahananku sudah melemah. Aku sudah lelah dengan banyak permintaanmu.
Kamu sering memintaku untuk meluangkan waktu untukmu ditengah kesibukan
kuliahku. Aku mengalah. Kita bertemu. Lalu kamu luapkan semua amarahmu disana,
di tempat kita bertatap muka. Harusnya pertemuan kita untuk melepas rindu,
bukan malah menambah pilu. Apa ini caramu?
Jika harus diulang lagi dari
awal, dari pertama kita berkenalan. Kita memang sudah beda. Beda suku, beda
prinsip, beda cara berpikir, beda sudut pandang, beda kesukaan, beda hobi, beda
selera film, beda selera musik, dan banyak perbedaan yang harusnya bisa saling
melengkapi. Katamu dulu juga begitu, kamu meyakinkan aku bahwa setiap orang
diciptakan berbeda-beda agar saling mengisi. Kamu mengisi bagianku yang kosong
dan begitu pula sebaliknya. Kamu ingat tidak saat kita pertama kali nonton film
berdua? Kamu ingin nonton film action sedangkan aku ingin nonton film romantic.
Tanpa banyak bicara, kamu mengalah. Karena kamu bilang yang membuatku senang
akan membuatmu senang juga.
Lalu sekarang apa? Omong
kosong. Dengan beraninya kamu memulai pertengkaran kita dengan alasan kita
sudah beda, kita tak lagi satu frekuensi. Alibi macam apa lagi? Pria memang
selalu begitu......mencari-cari alasan jika sudah bosan.
Kukira dengan mudah aku
akan bisa melupakanmu, melupakan semua kenangan kita secepat aku memutuskan
untuk menjadi kekasihmu dulu. Tapi nyatanya…bagaimana aku bisa lupa jika
wajahmu saja dapat kunikmati dengan setiap hari. Kamu selalu hadir didepan mata
meskipun kita tak bicara apa-apa. Bahkan kamu tak menanyakan bagaimana hatiku
setelah kau tinggal pergi. Kuberi tahu, aku menyimpan sakit ini sendiri. Kita
bertemu setiap hari, ragamu ada tapi hatimu tak tahu entah kemana. Kembalikan
aku pada masa itu, dimana kamu belum mencuri perhatianku. Bawa aku ke masa
lalu, saat kamu belum menyelinap masuk kedalam hati dan otakku.
Comments
Post a Comment