Sampai Kehabisan Kata
Bicaralah...
Haruskah kita seperti ini?
Sudah tiga belas hari
tepatnya. Kurasakan ada batas diantara sorot mata yang biasa melekat. Dan juga
jemari yang kehilangan pasangannya untuk saling menggenggam erat. Serta pelukan
hangat yang kini tak lagi ku dapat.
Kepergianmu seringkali
tak meninggalkan pesan apa yang harus kulakukan. Hanya menitipkan
ketidakpastian yang sengaja tergantung di awan-awan. Diammu juga sering kau
jadikan sebagai senjata andalan.
Tapi setelah berkali-kali terjadi, aku baru mulai
menyadari.
Kenapa hanya aku yang kebingungan ketika ada yang
salah dengan hubungan?
Kenapa hanya aku yang begitu kehilangan jika kamu
bertingkah demikian?
Kenapa harus aku?
Aku memang memilih bertahan,
tetapi bukan berarti kamu bisa meremehkan. Memilih tidak hengkang dalam
hubungan bukan berarti sanggup disepelekan. Dan saat ini, pergi bukan lagi
menjadi pilihan, tetapi sebuah keharusan. Toh hal-hal yang berusaha aku
jelaskan pun tak pernah sekalipun kamu dengarkan.
Lebih baik disalahkan bukan
daripada diabaikan?
Aku sudah memberimu
banyak waktu untuk diam. Kupikir sudah cukup bagiku untuk menerka apa yang
sedang kamu pikirkan. Tak akan lagi aku menyalahkan diri sendiri. Meskipun
masih tersisa kekecewaan yang terus menyesakkan. Aku undur diri.
Bicaralah...
Bicaralah sampai salah
satu dari kita kehabisan kata. Dan kita bisa menyudahi semua yang pernah ada.
Hatimu tidak disini, ia
ingin berkelana jauh. Bukan disini tentunya, bukan bersamaku.
Comments
Post a Comment