Surat (Sebenarnya) Rahasia


untuk pria yang terasa semakin jauh

Surat ini sengaja kutulis untukmu karena aku ingin menyampaikan sesuatu padamu. Sejak hari itu, setelah kamu meninggalkan aku dengan berjejak banyak tanya, tanpa disadari kita tak lagi saling berucap sepatah kata pun. Semua pertanyaanku tak kau gubris sama sekali, entah mengapa…

Kupikir surat ini adalah satu-satunya cara untuk berbicara lewat kata denganmu. Kau bisa membacanya tanpa bertemu aku, dan aku tak perlu tahu.
Aku menulis ini dengan penuh harap kau masih mau membacanya. Aku tak apa jika kau tak mau mendengarkan aku atau tak mau menjawab pertanyaanku lagi. Tapi bacalah dulu agar kau paham!

Apa kabarmu? Kudengar dari teman-temanmu katanya akhir-akhir ini kau terlihat sering murung. Kau lebih sering menyendiri tanpa ingin ditemani. Kau memilih diam lalu menghilang. Kenapa? Apa kamu terlalu sibuk dengan segala macam kegiatanmu hingga kuliahmu berantakan karena kamu tak pandai membagi waktu? Atau karena tak ada lagi yang mengingatkanmu bangun pagi agar tak telat kuliah? Tak ada lagi yang menyemangatimu untuk menyelesaikan tugas-tugasmu, benarkah? Mungkin tak ada lagi yang menemanimu begadang untuk belajar bahan ujian di esok harinya? Ehmm..apa karena tak ada lagi yang menasehatimu agar tetap fokus pada kuliahmu? Tak ada lagi yang memarahimu jika kau bolos kuliah, begitukah? Atau kau sering murung karena merindukan yang tak kau dapat sekarang tanpa aku?
Aku tahu kau pasti tak suka jika aku banyak bertanya, aku bahkan masih sangat hafal.
Aku sangat mengerti kau bukan orang yang hobi bercerita tentang masalahmu, tapi bagilah bebanmu dengan teman-temanmu. Aku tak lagi bisa menjadi tempatmu bercerita karena kamu yang meminta. Tersenyumlah meskipun senyummu tak lagi karena aku. Tertawalah meskipun kau tak tertawa bersamaku. Berbahagialah meskipun bahagiamu tak kau bagi denganku.
Aku baik-baik saja…

Aku tak pernah menyesal pernah mengenalmu begitu jauh, menghabiskan banyak hari bersamamu, melakukan berbagai hal gila denganmu, membagi cerita-ceritaku atau berdebat hal-hal kecil yang sebetulnya tak perlu diperdebatkan karena kita memang selalu punya sudut pandang yang berbeda pada sesuatu apapun itu.  Aku sering mengajakmu melihat burung-burung di pagi hari atau sekedar memandangi ikan-ikan di kolam, memaksamu menemaniku melakukan hal-hal yang sering kau sebut seperti anak kecil tapi kau ikut saja. Dasar pria mengaku-ngaku dewasa…

Ku jelaskan lagi, sekarang semua itu kulakukan sendiri, tanpa kamu yang dulu selalu menemani. Sejak kau putuskan untuk pergi, kita tak lagi saling bicara bahkan menatapku saja kau enggan. Dengarkan baik-baik! Kau tak perlu bersikap menghindar dan membisu kepadaku. Tanpa kau begitu aku sudah tak pernah lagi merindukanmu, hanya saja aku merindukan momen-momen saat kita bersama. Sekali lagi perhatikan, aku merindukan momennya bukan orangnya karena aku sangat sadar betapa berharganya kenangan kita yang tak kudapat dari orang lain selain kamu.

Dari awal memang aku tak lebih dari sekedar temanmu, hanya saja aku lebih sering memiliki waktu bersamamu. Dan sekarang aku kembali menjadi teman (harusnya) baikmu. Jika aku bisa meminta, tolong bawa aku kembali ke masa dimana kita berteman tanpa membawa perasaan. Buatlah semua kembali seperti semula sebelum kita mengenal begitu dalam. Pahamilah! Aku tak ingin lagi kembali bersamamu sesering dulu, sungguh tak inginkan itu. Tapi manusiakan aku sebagai manusia. Kau tak perlu mengunci mulutmu, membutakan matamu, dan menulikan telingamu bila dekat denganku. Jika kau melakukan itu dengan alasan membantuku untuk lupa, aku tak merasa terbantu sama sekali. Kau malah membuat lukaku semakin dalam. Harusnya kau tahu bagaimana perasaanku jika yang kudapati hanya pengabaian bertubi-tubi. Aku hanya meminta kau anggap sebagai temanmu yang sewajarnya. Bukan begini…

Tak apa jika kau tak mau membaca ini sekarang, tapi berjanjilah kau pasti akan membaca ini entah kapanpun itu…

“ Selamat tinggal kisah tak berujung, kini ku kan berhenti berharap ”

Semoga surat ini tetap sampai walaupun kau berada jauh disana, berkilometer...

Comments