Terenggut
Kapan terakhir bahagia?
Entahlah.
Rinduku telah pergi
begitu jauh, meninggalkan setumpuk kenangan yang sebenarnya telah lama dan
usang. Masih jelas teringat bagaimana ego menyulut ambisimu untuk terus
berjalan pergi. Sementara aku hanya bisa meringkuk dalam kesakitan, mendengar
samar-samar setiap jejak kaki yang kau buat hingga tubuhmu tak lagi tertangkap
oleh mataku. Sesekali aku pernah menemuimu dalam tidur setengah sadarku, tetapi
bayanganmu terlalu sukar untuk kugapai dan tanganmu terlalu dingin untuk
kujabat lagi.
Ragamu sudah lama
pergi, kau juga sudah tak lagi memberi arti. Aku bahkan sangat yakin kau tak
ingin menengokku lagi. Tapi mengapa kau tak henti menyiksaku dengan ingatan
yang sering hadir dengan nada pilu yang menusuk telingaku. Tidakkah cukup
bahagia yang kau renggut terus menerus dariku? Jangan berani menggangguku jika
kau tak akan pernah memberikan bahagiaku kembali atau aku akan membenci yang
dulu benar-benar kucintai. Biarkan aku sendiri mencari rindu yang masih menungguku
hingga tulang-tulangku mulai retak dan waktu akan berhenti berdetak.
Menjauhlah, aku hanya
ingin dekat-dekat dengan kesepian.
Comments
Post a Comment