Jatuh pada Cinta yang Sama
Coba jelaskan kenapa kamu tiba-tiba datang setelah
dua tahun lalu tak pernah ada kabar. Sekarang wajahmu tampak berbeda ya,
mungkin karena kamu lupa mencukur kumismu yang terlihat lebih tebal karena
sibuk dengan tugas kuliahmu. Atau kamu sengaja membiarkan rambut-rambut tipis
itu tumbuh liar di dagumu agar kamu tampak lebih dewasa. Entahlah…dari kita SMA
kamu memang tak pernah memperhatikan penampilanmu. Tapi ada beberapa dari kamu
yang tak berubah, senyummu masih sehangat waktu pertama kulihat saat upacara
penerimaan siswa baru disekolah.
Kamu
kemana saja dua tahun ini? Aku tak pernah paham mengapa Tuhan membuat pertemuan
saat itu begitu ajaib hingga kamu memilihku sebagai sahabat sedekat waktu itu.
Aku tak pernah lupa saat-saat indah di SMA, saat dengan sengaja aku menangkap
sinar matamu yang bercahaya diantara banyak pasang mata yang lain. Menunggumu
mengangkat tangan kananmu ketika kakak kelas kita membaca daftar absen kelas
demi tahu namamu. Aku sungguh mengagumi ketua kelasku satu ini. Semakin hari
kita semakin dekat, kamu selalu mempercayakanku sebagai orang pertama bahkan
mungkin menjadi orang satu-satunya untuk menampung semua ceritamu. Laki-laki
yang sering menganggapku tak punya cinta dan sulit tertarik pada pria ini tak
pernah sungkan untuk membisikkan rahasia-rahasianya kepadaku. Kamu ceritakan
bagaimana kekasihmu itu cemburu padaku hingga kamu memintaku untuk sedikit
menjauh darimu. Kemudian setelah kamu putus, kita kembali sedekat itu,
mendengar lagi semua keluh kesahmu dengan gaya yang terburu-buru. Aku tak
pernah sadar kenapa masih saja setia terhadapmu meskipun kamu sering memintaku
mendekat dan menjauh.
Selama
tiga tahun kita bersama, mustahil jika aku tak diam-diam menaruh rasa. Aku
sering memimpikan hubungan kita lebih dari “aku dan kamu hanya sahabat”
mengingat kamu selalu menjadikanku dermaga seusai kamu berkelana. Tak jarang
kamu memberiku pelukan tanpa basa-basi, menutup mataku dari belakang dan dengan
mudah kutebak siapa. Kamu tak pernah mengerti ada gadis yang hatinya tersayat
berkali-kali setiap kamu bercerita telah berhasil menjalin cinta dengan wanita
ini itu sesuka hatimu. Dibalik ceritamu tentang kekasih-kekasihmu itu aku
selalu berharap namaku ada diantara banyak nama yang kau sebut dengan wajah secerah
bunga di taman belakang sekolah. Kamu ingat aku pernah cerita bahwa aku sedang
jatuh cinta pada laki-laki yang saat itu kau balas dengan tawa terbahak-bahak
seakan tak percaya aku bisa jatuh cinta. Andai saja aku tak bernyali ciut saat
itu, pasti sekarang kamu sudah tahu bahwa laki-laki yang aku maksud adalah
kamu. Iya kamu…
Kamu
benar-benar menghilang tanpa kabar ketika kita harus menimba ilmu di kota yang
berbeda selepas lulus SMA. Sekarang, setelah dua tahun aku berusaha melupakan
tentangmu. Menghapus sedikit demi sedikit penyelasan kenapa waktu itu bibirku
kaku untuk sekedar berucap “aku suka kamu”. Berjuang susah payah untuk tak
mencarimu dan ingin tahu kabarmu. Kamu tiba-tiba datang dengan warna yang
sedikit berbeda, aku kira rasa itu telah tiada. Aku tak pernah terpikir akan
jatuh pada cinta yang sama. Sudah, jangan kesini lagi. Jangan buat usahaku
untuk membereskan kenangan kita menjadi sia-sia. Sialnya, kamu sangat paham aku
bukan gadis yang cukup galak untuk menolak kedatanganmu lagi di hidupku.
Comments
Post a Comment