Aku Sedang Mencoba, Semoga Saja
Ketika aku menulis ini, aku
masih berusaha sekuat tenaga menahan sesak yang tak tahu penyebabnya apa. Malam
ini terasa begitu dingin, tak lagi sehangat malam-malam sebelumnya saat kamu
sengaja merangkulku dengan erat tanpa ragu, melindungiku tanpa aku meminta,
kamu senantiasa menjagaku dari sadisnya tiupan angin malam. Tiba-tiba saja
terlintas semua tentang kamu. Kamu yang dulunya tidak termasuk deretan pria
yang kukagumi. Kamu yang dengan lancang mengambil hatiku dan menyimpannya
dengan penuh hati-hati. Tapi itu dulu…
Aku masih sangat ingat
bagaimana saat-saat menyedihkan ketika kita sepakat untuk mengakhiri hubungan
yang tak pernah jelas ini. Aku merasa
kita tak lagi melewati jalan yang sama. Kita berjalan dengan arah yang berbeda
dan kamu juga mulai merasakan hal yang sama. Bukan aku atau kamu, tapi “kita”.
Dengan begitu banyak pertimbangan, berdebat ini itu, saling menyalahkan, lalu
kita memutuskan. Kita sama-sama tak perlu memaksakan perasaan karena kita tak
ingin saling melukai. Biarkan aku menjaga hatiku dan kenangan kita. Meskipun
sendirian..
Untung saja saat itu kita
tak saling menatap, hingga kamu tak perlu tahu air mataku yang tak bisa kutahan
lagi. Sangat berat melepasmu pergi dan menjauh, menyudahi semua kenangan yang
sengaja kusimpan untuk mengingatmu lagi. Walaupun aku tahu pasti akan perih. Tapi
kamu tak akan pernah paham sayang. Maafkan aku, kamu pasti tak ingin mendengar
jika kuceritakan tentang air mata.
Aku sudah menunggu sangat
lama agar kamu benar-benar hilang. Yakinkan aku bahwa kamu telah pergi dan tak
akan kembali. Aku tak lagi ingin mengingatmu karena itu membuatku semakin
rindu. Tolong jangan lagi kau sakiti dengan ketidakhadiranmu disini.
Sebegitu ingin melupakanmu,
aku mencoba mengganti sosokmu dengan sosok pria baru. Sosok itu jauh berbeda
denganmu. Tak ada sedikitpun bagian dari dirimu pada dirinya yang menjadi
alasanku mengaguminya. Aku tak menemukan secuil perangaimu yang sama dengan
pribadinya. Jadi, dia tak akan mengingatkanku padamu lagi. Aku mencoba
mencintainya diam-diam dengan begitu dalam. Meski memang tak sedalam saat aku
mencintaimu dulu. Aku sering memperhatikannya dari jauh walaupun dia tak pernah
menyadarinya sama sekali. Meskipun lagi-lagi tak sesering saat aku
memperhatikanmu dulu. Ketika dia tak ada, aku selalu mencarinya. Meskipun tak sam khawatirnya saat aku tak melihatmu dulu. Aku melakukan semua itu dengan sangat
rapi dan hati-hati, hingga tak perlu ada yang tahu bahwa aku sedang mengagumi
pria berkharisma itu. Pria itu tak banyak dipandang orang, mungkin karena biasa
saja diantara banyak pria yang lebih sedap dipandang mata. Namun entah mengapa
dia tertangkap begitu saja oleh mataku, maksudnya mata hatiku. Tapi dengarkan
dulu, aku melakukan itu karena aku ingin cepat melupakanmu agar aku tak
sekali-kali mengganggumu dan merepotkanmu.
Sesuai permintaanmu kan?
Tenang saja, aku akan lupa tanpa kau paksa.
Comments
Post a Comment