Tidakkah Aku Saja
Malam ini cahaya bulan
terasa lebih redup. Bulan terlihat semakin rapuh. Mungkin bulan sudah mulai
lelah menangkap sinar matahari yang terlalu bercahaya. Suatu kebetulan yang
ajaib, seakan semua perasaanku tergambarkan oleh redupnya cahaya bulan malam
ini. Gadis yang rapuh hatinya untuk terus menunggu. Aku merindu? Bisa jadi…Aku
baru saja menapakkan kaki di kota ini untuk kembali, meskipun tidak terlalu
lama tapi beberapa minggu tidak bertemu denganmu membuat waktu berjalan begitu
lama. Aku mencarimu disini…
Salahkah jika aku rindu
pada lelaki yang aku sendiri tak tahu dia meletakkanku di hati sebelah mana?
Tak bolehkah merindukan lelaki yang entah menyebutku sebagai apa? Menyalahkanku
jika rindu ini terjadi begitu saja?
Entah ini yang keberapa
kalinya aku kembali diingatkan agar memikirkan lagi untuk melanjutkan semua ini
denganmu. Begitu luar biasa kah kita hingga menjadi topik utama perbincangan
mereka? :) Lalu apa lagi yang bisa aku lakukan selain mendengarkan dan
melemparkan senyum simpul terbaikku kemudian
beranjak pergi. Kamu pasti tahu aku orang yang teguh, tak gampang terpengaruh.
Tapi tahukah kamu? aku beberapa kali pernah ragu-ragu, rasanya ingin menyerah
dan berhenti saja. Jika kamu bertanya apakah karena aku tak berbahagia denganmu?
Bukan sayang, tentu saja bukan, aku bahkan sangat berbahagia denganmu. Karena
semua kata-kata cinta yang tertulis olehku bersumber dari waktu-waktu milikku
yang tersita untukmu. Dan mungkin di suatu tempat lain aku tak akan menemukan
orang semenyenangkan seperti dirimu saat ini. Lalu jika kamu menanyakan lagi
tentang penyebab keragu-raguanku. Biar kujelaskan, aku selalu merasa beruntung
menjadi gadis pilihanmu (mungkin). Gadis mana yang tidak senang hatinya jika
selalu merasa dispesialkan oleh pria macam kamu. Tapi aku juga sangat paham
bahwa yang spesial dihidupmu bukan hanya satu dan bukan hanya aku. Dari awal
aku mengenalmu aku telah menyadari itu sayangku.
Sampai detik aku
menulis ini, aku masih juga belum mengerti kenapa mampu bertahan selama ini
denganmu. Menjaga semua yang tak pernah tahu berawal dengan apa. Mengalah
dengan segala keegoisanmu menjadikanku salah satu gadis yang entah sampai kapan
kamu tak menganggapnya siapa-siapa. Aku baik-baik saja, kelihatannya. Aku tak
tahu apa-apa, sepertinya. Sesungguhnya aku lebih tahu dari apa yang tidak kamu
tahu sayang. Aku tahu hati mana saja yang sedang kamu jajaki. Aku hanya tak
tahu bagaimana caranya untuk pergi. Tak mengerti caranya lepas darimu dan
membiarkanmu memilih hati yang lain. Sialnya, aku selalu menjadi gadis yang
lemah dihadapanmu. Mudah saja jatuh kepelukanmu tanpa pembelaan apapun.
Sayang, tak perlu kamu
susah payah mengelabuhiku. Kamu tak perlu repot menyembunyikan semua agar tak
tertangkap olehku. Sekali lagi, sesungguhnya aku lebih tahu dari apa yang tidak
kamu tahu sayang. Bagaimanapun, wanita memang akan lebih peka pada hal
disekitarnya apalagi kebohonganmu. Bukankah kaumku memang tercipta untuk
menjadi perasa? Tenanglah, aku tak akan menyalahkan apapun dan siapapun. Tidak
kamu, tidak juga hati-hati yang kamu singgahi itu. Karena aku selalu yakin
cinta akan pulang pada tuannya. Kata orang pun cinta selalu penasaran. Namun,
bolehkah aku bertanya? Butuh berapa lama lagi untukmu berpetualang? Tidakkah
cukup hanya aku saja yang menjadi tempatmu menetap?
Salam hangat dari hati
yang masih kamu singgahi…
Comments
Post a Comment