Harusnya Aku Sudah Terbiasa
Kepalaku agak terasa berat, mungkin
karena beberapa hari ini aku terlalu memaksakan mataku agar tetap terjaga
hingga subuh demi memburu waktu yang tepat untuk menuangkan segala perasaanku
dalam tulisan. Sejak mengenalmu, aku lebih rajin untuk menulis dan membaginya
diblog pribadiku karena sosokmu selalu menarik untuk kugambarkan lewat
rangkaian kata dalam cerita. Kamu adalah salah satu alasan kenapa aku tak
pernah kehabisan momen untuk kuceritakan.
Untuk pria yang tak bisa bersuara pelan,
apa kabar? Sejak namamu tak lagi ada pada deretan paling atas disetiap aplikasi
chattingku, aku sudah memaksakan diriku untuk terbiasa tanpa perhatianmu dan tetap
bisa bernafas bebas tanpa kabarmu. Memang tak mudah untuk gadis yang dulu selalu
menunggu pesan sangat singkatmu agar bisa terbiasa tanpa hadirmu dalam bentuk
apapun secepat ini. Jika aku tak mampu menyerang balik rindu yang seringkali
menggerutu, aku selalu memulai ritualku untuk membaca kembali semua pesan
singkatmu yang dulu-dulu. Kamu pasti tahu aku sangat pandai menyimpan banyak
kenangan yang pernah kita lalui, bahkan kamu ingat tiket nonton pertama kita
yang katamu film yang kupilih tak bisa kamu cerna dengan otakmu itu masih
tersimpan rapi dalam kotak yang kunamai “kotak abadi” di dalam lemariku.
Sayang, sekarang aku tak lagi menunggu
balasan pesanmu yang biasa kau kirim berjam-jam setelah aku mengirimmu pesan
karena kamu sendiri yang menyuruhku untuk tak lagi menunggu. Kamu begitu jauh,
adakah kamu ingin tahu kabarku? Sedangkan sejak kita tak lagi saling mencari
lewat pesan, aku mungkin menjadi orang nomer satu yang selalu ingin tahu
kabarmu lewat semua sosial media yang kamu miliki. Kini aku sudah menjelma
sebagai si tukang kepo semua akunmu, tak ada satupun tulisanmu di sosial media
yang terlewatkan olehku untuk memastikan apa kamu baik-baik saja ditengah semua
kegiatanmu yang padat seperti macetnya ibu kota Indonesia. Aku lebih suka
merindukanmu diam-diam karena setiap rindu yang kusampaikan tak pernah kau
gubris sama sekali. Kau tak pernah paham sayang.
Aku sangat ingat pertemuan terakhir
kita. Saat itu kamu kebingungan gara-gara gadis yang sering kamu ejek anak papa
ini tiba-tiba menangis sejadi-jadinya. Kamu menebak-nebak alasanku menangis
seperti orang yang telah lama mengenalku dan ternyata semua tebakanmu benar
sekali tapi gadis pengecut ini tak berani mengangguk agar kamu tahu. Andai saja
waktu itu aku mengaku bahwa pria yang ada didepanku yang sedang bertanya dan
mencoba menghapus air mataku ini sudah berubah menjadi pria yang kaku, yang
tawanya tak sehangat dulu, yang menganggapku hanya angin lalu padahal aku ada
disampingmu.
Sudah hari kelima namamu tak lagi muncul
dilayar ponselku. Entah sampai batas waktu yang tak ditentukan kita akan
seperti ini. Padahal setiap lampu kerlap-kerlip di ponselku mulai menyala aku
masih saja berharap itu kamu. Harusnya aku tak seberlebihan ini karena aku tahu
hanya aku yang mencari, aku yang bermimpi terlalu tinggi. Mungkin aku masih
bahagia tapi tak sempurna. Semoga kita tetap saling mendo’akan disetiap malam.
Semoga kamu selalu ingat sebelum kita sejauh matahari kita pernah sedekat kulit
ari.
Selamat malam yang masih bertahan dalam
diam.
Comments
Post a Comment