Mengenalmu Sebentar

Sejak aku sempat mencicipi rasa kehilangan yang abadi, aku tak pernah bertahan lama menjalin hubungan dengan beberapa pria. Rasanya tak akan pernah aku menemukan sosok seperti dia pada raga yang berbeda. Sangat sulit memulai untuk mempercayakan banyak rahasiaku yang sering kuceritakan padanya dulu. Tapi aku percaya pertemuan kita tak sebuah kebetulan, Tuhan pasti telah merencanakannya untuk mengganti semua yang telah hilang. Kamu berbeda, dan sampai kapanpun  tak akan pernah sama, tapi entah kenapa perangaimu begitu mudah untuk kuterima. Aku ingin mengenalmu bukan hanya melihatmu dari jauh. Aku sudah lelah lompat dari beberapa hubungan yang kuanggap main-main. Pria ini sudah cukup dewasa untuk tak lagi main-main.

Aku hanya adik tingkatmu yang kau anggap lugu tiba-tiba menyukai pribadimu, kadang aku memang tak tahu malu. Kedatanganmu mampu mengisi bagian-bagian kecil diotakku dan menjalar menuju relung hatiku. Sebagai anak baru, aku hanya bisa mencuri-curi wajahmu dari sudut yang paling jauh. Kamu sering berada ditempat yang sama setiap hari, asyik dengan teman-temanmu, tanpa peduli ada yang diam-diam susah payah menangkap gerakmu. Namun mungkin alam sedang berkonspirasi hingga selalu ada hal yang membuat aku diizinkan untuk bertemu denganmu. Menikmati setiap lekuk wajahmu dan mengamati gerak bibirmu yang sedang antusias menceritakan setumpuk tugas kuliahmu yang tak kunjung kau selesaikan.

Pertemuan kita tak terjadi hanya satu atau dua kali. Aku selalu merasa sefrekuensi berdiskusi dengamu, karena yang kau ucapkan selalu bisa kujadikan ilmu baru, aku terhipnotis kata-katamu. Setelah percakapan pertama kita menimbulkan perasaan aneh yang meluas melebihi batas wajarnya. Mungkin terlalu terburu-buru untuk disebut cinta, yang jelas aku ingin menemuimu lagi dan lagi bahkan setiap hari. Hingga waktunya kamu menyadari semua perasaanku terhadapmu yang tak berhasil kusimpan rapi dalam hati dan saat itu pula kamu mengatakan punya perasaan yang sama terhadapku melebihi perasaan kakak kepada adik tingkat yang seharusnya. Tak butuh waktu lama untuk kita semakin dekat, setiap hari sosokmu mampu membawa perubahan pada diriku. Perasaanku sudah lebih terkendali karena kamu memintaku untuk menjalani hubungan ini seperti hembusan angin. Alasanmu karena diusiamu yang sudah lewat dari dua puluh satu tahun itu bukan saatnya untuk hubungan yang sekedar hura-hura. Aku paham dan dengan besar hati mencoba mengimbangimu.

Aku sulit mencarimu saat ini, kenapa kamu bersembunyi tanpa mengajak serta aku. Ini waktunya aku sendiri lagi. Sekarang semua canda, momen makan malam kita, dan semua sapaan sederhanamu diujung telepon hanya akan menjadi kesalahan yang tak akan lagi diulang. Kamu bukan lagi kamu yang kukenal, tatapanmu yang tajam di meja taman sore itu sudah terasa hampa sekarang. Aku baru sadar bahwa kita tak akan tahu kemana arah hembusan angin, seperti hubungan kita yang tak mengarah kemana-mana. Jika aku tahu kisah kita tak berujung apa-apa, aku tak akan pernah mau untuk mengawali. Kamu mengakhirinya dengan tiba-tiba, segala perbedaan umur, jarak, dan dan banyak hal yang dulu tak pernah kau pedulikan sekarang sengaja kau jadikan senjata untuk menyakitiku. Salah jika aku marah? Begitu mudahnya kamu menggeser aku dari hari-harimu, menghempas jauh-jauh namaku dari otakmu. Kita sudah ada di persimpangan dan rute perjalanan kita tak lagi sama. Biarkan aku menyelamatkan hatiku. Tak ada lagi kabarmu yang perlu aku tahu. Tak ada lagi malu-malu saat harus menatap matamu. Meskipun tak bisa aku mengelak masih ada sisa-sisa rasa yang dulu, aku berusaha dewasa untuk mengikhlaskan dan melepaskanmu. Meskipun bertemu denganmu bagaikan menemukan oase, aku lebih memilih kekeringan. Meskipun perhatianmu sempat bagaikan pohon yang meneduhkan, aku lebih memilih kepanasan.

Note : jangan betah lama-lama di kampus, kamu cepetan lulus

Comments