Satu Kata, Istimewa
Tanpa sengaja aku terbangun
tengah malam karena penyakit batuk dan flu yang telah menggangguku tiga hari
belakangan ini. Seperti malam-malam sebelumnya, mata ini sulit kupejamkan lagi
meskipun kepala ini terasa agak berat. Aku tampak begitu lemah ya malam ini.
Sudah kupaksa mata ini terpejam, tapi sama saja. Lalu kuraih laptopku yang
masih menyala diatas meja. Biar kuhabiskan malam ini dengan menceritakan lagi tentang
pria baru yang mencoba mengalihkan perhatianku darimu. Pria yang pernah
kuceritakan itu. Pria yang cukup tersenyum sudah membuatku terkagum, cukup
tertawa sudah membuatku menganga, meskipun hanya lewat sudah membuatku
terpikat.
Nyaliku ciut. Dari dulu
memang aku pengecut untuk hal-hal seperti ini. Bukankah wanita hanya bisa
menunggu? Tapi aku tak pernah memberikan kode apapun, bagaimana dia bisa peka?
Aku hanya berani memandangnya dari sudut kolam, sudut favoritku karena beberapa
kali aku bisa melihatnya dengan sangat jelas dari sini. Aku selalu memberi
jarak cukup jauh untuk mata kita bertemu, memastikan agar gerak-gerikku tak
akan terbaca olehnya. Jangankan mendekat, melihatnya mengusap keringat diantara
sela-sela kacamatanya saja aku sudah berdebar tak karuan. Melihatnya bercanda
dengan teman-temannya disepanjang lorong kelas sambil tersenyum saja, rasanya
senyum itu sengaja diberikan untukku. Dia pernah melontarkan sejumput “hai” didepanku
entah untuk siapa, sesederhana itu saja sudah membuatku salah tingkah. Ini
sangat berlebihan, tapi akan biasa saja untuk manusia yang sedang jatuh….cinta
Sampai detik ini aku masih
sangat menikmati bagaimana aku melakukan semuanya dengan diam-diam, sangat
pelan-pelan, begitu hati-hati sebab aku pernah keliru karena terburu-buru. Aku
juga pernah jatuh sampai tersungkur karena tergesa-gesa. Karenanya sekarang aku
lebih menjaga hati ini erat-erat. Hati ini sudah retak. Kujaga agar tak patah
karena pernah mencintai dengan penuh kesan tapi disakiti habis-habisan.
Ruangnya pernah diobrak-abrik oleh penghuni sebelumnya lalu ditinggal begitu
saja.
Sejak aku berusaha mengenal
pria itu, aku mengingat lagi bagaimana rasanya berjuang. Aku mengulang lagi
bagaimana rasanya peduli. Aku mencoba lagi bagaimana rasanya jatuh cinta. Aku
mengenang lagi bagaimana rasanya merindukan. Hingga aku melupakan bagaimana
rasanya menyesal. Aku melupakan bagaimana rasanya sakit hati. Aku melupakan
bagaimana rasanya diabaikan. Aku melupakan bagaimana rasanya ditinggalkan. Aku
melupakan bagaimana rasanya kehilangan. Yang semuanya pernah kudapat darimu
dulu. Kamu yang pergi tak beralasan, tapi sudahlah kamu pernah menjadi bagian
masa laluku. Kamu yang menjadikanku untuk tetap tangguh.
Aku tak lagi ingin larut
dengan masa lalu, sekarang telah datang pria baru. Pria yang tak pernah sadar bahwa
dia membawa kebahagiaan tersendiri dihidupku. Mengenalkanku dengan warna-warna
baru dan pergi dari masa yang sempat meyakinkanku untuk tetap bertahan dalam
ketidakjelasan.
Terima kasih telah
menjadikanku tuan rumah, meskipun aku paham dia tak pernah merasa menjadi tamu istimewa.
Comments
Post a Comment