Posts

Dalam Batasan

Aku menyesal mengenalmu sejauh itu. Sebagai pembuka, kalimat itu cukup menyakitkan ternyata. Jika tahu akan berakhir secepat ini, rasanya ingin mengenalmu seadanya saja. Memikirkanmu seperlunya. Memperhatikanmu secukupnya. Menyayangimu sewajarnya.   Lalu, kita menjadi biasa saja. Tanpa ada hati yang merasa tersakiti, tapi kamu tak pernah merasa melukai. Sayangnya aku terlanjur melewati batas-batas yang sengaja kamu buat dengan samar. Kukira senyummu adalah pertanda agar kusegera berlabuh. Kukira kamu hadir karena tak pernah mengenal  akhir. Kukira tawa saat kamu bercerita akan kudengar selamanya. Nyatanya aku salah. Aku merasa kamu lah orang yang tepat. Ternyata kamu malah menjadi yang tak akan pernah kudapat. Jadi selama ini memang kamu tak pernah merasa kita saling. Menyebalkan.

Peluk Aku Lebih Erat

Hai kamu, pria yang dekapannya paling menenangkan... Aku menulis ini ketika lagu Pamitnya Tulus diputar di radio favoritku, pas ya rasanya Kata orang carilah pasangan yang mau bertengkar, berdebat, merajuk, marah-marahan dan hal lain yang menjengkelkan dengan kita selamanya. Karena nanti hidup tak hanya sekadar bercanda dan happy happy saja. Tapi jika semua hal dianggap salah lalu bertengkar tiada habisnya, siapa yang bisa selalu tetap ada? Setiap ada kesempatan bersamaku akhir-akhir ini kamu selalu menggerutu, seolah ingin segera mengakhiri apapun yang sedang dinikmati. Masalah yang selalu sama, memperdebatkan siapa yang paling tidak mau mengerti, siapa yang selalu ingin menang sendiri, sampai siapa yang paling harus disalahkan antara kita. Aku memintamu tetap disini, dengan cara baik-baik hingga sumpah serapah yang seharusnya tak pernah terucap. Kamu tetap ingin segera lari. Lalu aku mulai menyadari Yang bertemu nanti juga akan pergi Yang bersama nanti juga ing...

Mungkin Ini Tak Perlu

Beberapa hubungan berawal dari ketidakpastian. Hubungan yang kamu bilang tulus, tak mustahil di tengah perjalanan harus putus. Tak apa, memutuskan untuk membangun hubungan berarti sepaket dengan kemungkinan kehilangan. Tapi ingat! Kita bukan lagi anak kecil yang sengaja membangun sesuatu hanya untuk dirobohkan. Katakan jika ada yang salah dalam hubungan. Bukan sengaja lari agar dicari. Kamu pikir aku cenayang yang bisa tahu isi kepala seseorang. Aku pun berhak menanyakan apapun yang membuatku tak nyaman. Membuatku menebak-nebak yang kamu rasakan tak akan memperbaiki keadaan. Menunggu siapa yang paling merasa dibutuhkan sungguh tak ada yang harus dibanggakan. Bukankah kita ini sepasang? Saling terbuka tentang perasaan adalah satu hal yang penting dalam hubungan. Tenang, menurunkan egomu tak membuatmu terlihat kalah di depanku. Jika kamu selalu ingin menang dalam perdebatan, lalu apa yang kamu dapatkan? Apa benar itu yang kamu inginkan? Coba tanya lagi pada dirimu sendiri....

Masa Depan

Berat ya ternyata... Aku berupaya selalu ada setiap kau terluka. Aku berusaha mengabulkan segala permintaan agar kupastikan kau tak kekurangan. Tapi nyatanya itu tak pernah cukup untukmu. Kuberikan semua terbaik yang bisa kulakukan. Tapi itu juga tak cukup untuk menggenapkan. Aku manusia, kadang aku kelelahan. Tapi amarahku pun seringkali tak membuatmu merasa kehilangan. Lalu, entah sejak kapan dia datang dan mulai mengacaukan. Dia datang begitu saja dan membuatmu nyaman tanpa banyak berjuang. Sementara, hanya demi membuatmu tetap tertawa, harus kulakukan berbagai aksi cinta yang kadang berbalik dari sisi diriku yang sebenarnya. Tidak adil rasanya... Kau masih saja bertingkah seolah kau mencintaiku, tapi tak pernah satu pun kata cinta yang kau ucapkan untukku. Kau tunjukkan betapa kau tak bisa kutinggalkan, tapi tak pernah sekali pun kau berikan rasa hangat sebuah pelukan. Jangan banyak alasan, bukankah seharusnya cinta tak pernah jadi terasa memberatkan? Jika...

Sampai Kehabisan Kata

Bicaralah... Haruskah kita seperti ini? Sudah tiga belas hari tepatnya. Kurasakan ada batas diantara sorot mata yang biasa melekat. Dan juga jemari yang kehilangan pasangannya untuk saling menggenggam erat. Serta pelukan hangat yang kini  tak lagi ku dapat. Kepergianmu seringkali tak meninggalkan pesan apa yang harus kulakukan. Hanya menitipkan ketidakpastian yang sengaja tergantung di awan-awan. Diammu juga sering kau jadikan sebagai senjata andalan. Tapi setelah berkali-kali terjadi, aku baru mulai menyadari. Kenapa hanya aku yang kebingungan ketika ada yang salah dengan hubungan? Kenapa hanya aku yang begitu kehilangan jika kamu bertingkah demikian? Kenapa harus aku? Aku memang memilih bertahan, tetapi bukan berarti kamu bisa meremehkan. Memilih tidak hengkang dalam hubungan bukan berarti sanggup disepelekan. Dan saat ini, pergi bukan lagi menjadi pilihan, tetapi sebuah keharusan. Toh hal-hal yang berusaha aku jelaskan pun tak pernah sekalipun...

Jadilah Seperti Ini

Aku suka kamu begini saja. Lalu aku diam sejenak, berpikir. Apa yang aku suka dari kamu? Aku suka kamu dari caramu menanggapi semua pertanyaanku. Iya, aku suka kamu dari pemikiranmu meskipun sebenarnya selalu saja berbeda denganku. Aku suka karena kamu tak pernah mau mengalah jika berbeda pendapat. Aku suka bercerita panjang lebar, kamu tetap mendengarkan dengan sabar. Kamu selalu menganggapku berbeda dari siapapun yang sebelumnya kamu kenal sangat dekat. Katamu aku aneh karena tak pernah memintamu untuk menjadi apapun sesuai dengan ekspektasiku. Kan sudah ku bilang aku suka kamu begini saja. Jika mereka yang ada dihidupmu dulu tak suka kamu begitu sibuk, aku lebih suka kamu menyibukkan diri untuk mengejar mimpi-mimpimu. Jika mereka selalu memintamu selalu ada, aku lebih senang sesekali kamu ajak untuk hidup mandiri. Jika mereka marah kalau pesannya kamu balas lama-lama, aku bersyukur hidupmu tak melulu soal dunia maya. Seperti yang selalu kamu bilang lebih baik mata saling...

Yang Aku Tidak Tahu

Aku tahu ketika dua orang memutuskan untuk bersama akan ada dua hal yang akan terjadi pada akhirnya. Tetap bersama atau benar-benar berpisah. Aku pun sudah menyiapkan diri jika hal kedua akan terjadi sejak awal kita berjumpa. Bukan apa-apa, hanya saja aku ingin menyelamatkan apa yang mudah dipatahkan. Bukankah aku harus tetap membagi bahagiaku jika nantinya akan ada yang menggantikanmu? Yang aku tidak tahu hanyalah hal kedua terjadi pada kita secepat ini. Serapi apapun aku sudah menyiapkan diri, ternyata aku masih kalah dengan rasa sakit hati. Tapi aku mulai mengerti, bahwa jika yang bersama akhirnya harus berpisah, berarti satu diantaranya tidak benar-benar jatuh cinta. Katanya merasa nyaman jika berdua bukan berarti itu cinta. Jadi, aku pasti tidak akan memaksamu. Ah tidak….aku sungguh ingin menahanmu. Namun percuma saja, bagaimana bisa berjalan jika yang ingin melangkah tidak sepasang. Aku cukup tahu diri. Seandainya dulu aku…. Kenapa aku ini? Beribu kali aku menga...