Peluk Aku Lebih Erat

Hai kamu, pria yang dekapannya paling menenangkan...
Aku menulis ini ketika lagu Pamitnya Tulus diputar di radio favoritku, pas ya rasanya

Kata orang carilah pasangan yang mau bertengkar, berdebat, merajuk, marah-marahan dan hal lain yang menjengkelkan dengan kita selamanya. Karena nanti hidup tak hanya sekadar bercanda dan happy happy saja. Tapi jika semua hal dianggap salah lalu bertengkar tiada habisnya, siapa yang bisa selalu tetap ada?

Setiap ada kesempatan bersamaku akhir-akhir ini kamu selalu menggerutu, seolah ingin segera mengakhiri apapun yang sedang dinikmati. Masalah yang selalu sama, memperdebatkan siapa yang paling tidak mau mengerti, siapa yang selalu ingin menang sendiri, sampai siapa yang paling harus disalahkan antara kita. Aku memintamu tetap disini, dengan cara baik-baik hingga sumpah serapah yang seharusnya tak pernah terucap. Kamu tetap ingin segera lari.

Lalu aku mulai menyadari
Yang bertemu nanti juga akan pergi
Yang bersama nanti juga ingin sendiri
Yang cinta nanti bisa jadi akan terganti
Tinggal menunggu waktu sesuai rencananya saja

Dan giliran kita, mungkin ini saatnya. Perpisahan paling menyakitkan pun mungkin akan terasa lebih baik sekarang. Aku yang tak pernah mau mengalah, nyatanya kini benar-benar kalah. Kita hanya butuh sedikit jarak agar bisa saling menghargai keberadaan satu sama lain. Agar kita tahu masih tetap ada rindu atau tak lagi butuh. Lama berjalan ternyata ada yang memilih untuk menyimpang. Untuk apa seakan terlihat saling memaknai padahal terus merasa saling dilukai.  Tapi ingat ya, ini bukan tentang siapa yang ingin pergi, tapi memang harus pergi. Untuk sementara atau selamanya? Entahlah...

I’m so thankful for the moments, so glad i got to know you love

Kemari mendekatlah...

Peluk aku lebih erat, karena katamu ini yang terakhir.
  

Comments