Dalam Batasan
Aku menyesal mengenalmu sejauh itu.
Sebagai pembuka,
kalimat itu cukup menyakitkan ternyata. Jika tahu akan berakhir secepat ini,
rasanya ingin mengenalmu seadanya saja. Memikirkanmu seperlunya. Memperhatikanmu
secukupnya. Menyayangimu sewajarnya.
Lalu, kita menjadi biasa saja.
Tanpa ada hati yang merasa tersakiti, tapi kamu tak
pernah merasa melukai.
Sayangnya aku terlanjur
melewati batas-batas yang sengaja kamu buat dengan samar. Kukira senyummu
adalah pertanda agar kusegera berlabuh. Kukira kamu hadir karena tak pernah
mengenal akhir. Kukira tawa saat kamu bercerita akan kudengar selamanya.
Nyatanya aku salah.
Aku merasa kamu lah
orang yang tepat. Ternyata kamu malah menjadi yang tak akan pernah kudapat.
Jadi selama ini memang
kamu tak pernah merasa kita saling.
Menyebalkan.
Comments
Post a Comment