Posts

Showing posts from October, 2018

Dalam Batasan

Aku menyesal mengenalmu sejauh itu. Sebagai pembuka, kalimat itu cukup menyakitkan ternyata. Jika tahu akan berakhir secepat ini, rasanya ingin mengenalmu seadanya saja. Memikirkanmu seperlunya. Memperhatikanmu secukupnya. Menyayangimu sewajarnya.   Lalu, kita menjadi biasa saja. Tanpa ada hati yang merasa tersakiti, tapi kamu tak pernah merasa melukai. Sayangnya aku terlanjur melewati batas-batas yang sengaja kamu buat dengan samar. Kukira senyummu adalah pertanda agar kusegera berlabuh. Kukira kamu hadir karena tak pernah mengenal  akhir. Kukira tawa saat kamu bercerita akan kudengar selamanya. Nyatanya aku salah. Aku merasa kamu lah orang yang tepat. Ternyata kamu malah menjadi yang tak akan pernah kudapat. Jadi selama ini memang kamu tak pernah merasa kita saling. Menyebalkan.

Peluk Aku Lebih Erat

Hai kamu, pria yang dekapannya paling menenangkan... Aku menulis ini ketika lagu Pamitnya Tulus diputar di radio favoritku, pas ya rasanya Kata orang carilah pasangan yang mau bertengkar, berdebat, merajuk, marah-marahan dan hal lain yang menjengkelkan dengan kita selamanya. Karena nanti hidup tak hanya sekadar bercanda dan happy happy saja. Tapi jika semua hal dianggap salah lalu bertengkar tiada habisnya, siapa yang bisa selalu tetap ada? Setiap ada kesempatan bersamaku akhir-akhir ini kamu selalu menggerutu, seolah ingin segera mengakhiri apapun yang sedang dinikmati. Masalah yang selalu sama, memperdebatkan siapa yang paling tidak mau mengerti, siapa yang selalu ingin menang sendiri, sampai siapa yang paling harus disalahkan antara kita. Aku memintamu tetap disini, dengan cara baik-baik hingga sumpah serapah yang seharusnya tak pernah terucap. Kamu tetap ingin segera lari. Lalu aku mulai menyadari Yang bertemu nanti juga akan pergi Yang bersama nanti juga ing...