Selamat Ulang Tahun Kamu


Sudah jam sebelas malam, hatiku makin was-was. Hari ini akan segera berganti menjadi kemarin, tapi kamu masih belum saja menerima pesanku lewat aplikasi chatting itu. Berulang kali aku mengirimmu pesan, mencoba mengganggumu agar kamu segera membaca pesan yang aku kirimkan. Akhirnya, tepat lima menit sebelum hari ini menjadi tanggal dua puluh dua pesanku telah sampai dilayar ponselmu. Aku sedang membayangkan bagaimana ekspresi wajahmu dengan terburu-buru sangat ingin tahu isi kirimanku. Tak lama setelah itu kamu membalas pesanku, katanya kamu telah melihat hadiah sederhana yang sengaja aku siapkan untukmu.

Aku bersyukur telah mengenalmu sejauh ini, membagi cerita tentang jutaan mimpi, melewati lebih dari seratus sebelas hari bersama dirimu sedekat ini meskipun kamu sangat suka mengomentari setiap tingkahku, pria rasis ini gemar mengejekku, tapi justru itu yang membuatku sangat rindu. Beruntung aku dan kamu masih bisa bertemu hari ini, hari dimana kamu diizinkan Tuhan untuk bisa melihat dunia, hari dimana ada tangis bahagia di kelopak mata mamamu, hari dimana pertama kali kamu menangis, hari dimana akan terucap berbagai do’a dan harapan untukmu,  hari dimana bertambah satu angka diusiamu yang membuatmu semakin bertambah tua. Hari ini saat bahagiamu, hari ini adalah ulang tahun kesembilanbelasmu. 

Aku sengaja menyiapkan semuanya jauh-jauh hari sebelum hari ini, menghabiskan beberapa malamku, menyibukkan diri dan meninggalkan beberapa tugasku hanya untuk menyiapkan ucapan terbaik di hari spesialmu. Aku sedikit lelah tapi aku tak merasa kerepotan untuk orang yang disayangi. Meskipun kamu berjarak beratus kilometer dari tempatku berdiri, tapi dengan segala kecanggihan teknologi ini aku harap kamu merasa aku sedang berada didekatmu, menyampaikan ucapan ini padamu. Jika saja kamu tahu bagaimana aku harus berperang melawan keraguanku untuk mengirimkan ini padamu. Aku takut kamu menganggapku berlebihan mengingat kejelasan status hubungan kita yang tak tahu dalam tahap apa. Aku takut kamu tak menyukai ini dan memilih untuk pergi.

Telah kutulis sembilan belas do’a dan harapanku di ulang tahunmu yang kesembilanbelas. Kamu semakin dewasa dan aku harap beberapa sifatmu bisa berubah. Balasan pesanmu terasa kaku walaupun kamu mengucap banyak terima kasih untuk hadiah sederhana yang aku kirim untukmu. Mungkin ini jawaban dari rasa ragu-raguku. Harusnya aku tahu, kamu tak akan suka. Saat itu juga aku merasa semua usahaku sia-sia, jerih payah setiap tengah malamku berakhir kecewa.

Hati ini sudah rapuh sayang, tinggal menunggu bentengnya akan runtuh. Jika kamu mengerti rasanya jadi aku ketika merasakan sikapmu yang masih sedingin udara di kutub utara. Tak akan aku menyalahkanmu, karna aku sendiri yang memilih berjuang untukmu, memilih untuk menyayangimu, dan memilih untuk mengagumi sosokmu. Mustahil memang bisa melihatmu semanis dulu, jika sekarang saja kamu masih teguh dengan sikap diammu. Perlahan-lahan melangkah pergi dan sedikit demi sedikit menyayat luka yang lama-lama terasa perih. Jika aku mau, aku ingin menahanmu disini. Tetapi menahanmu disini sama seperti menggenggam belati, semakin erat aku menggenggam maka semakin berdarah-darah. Bagaimanapun kamu, aku tetap berdo’a agar Tuhan selalu memberimu kebahagiaan. Jika kamu orang yang tepat, aku percaya Tuhan akan mencairkan hatimu yang beku dan mendekatkan ragamu yang jauh.

Selamat Ulang Tahun Kamu. Terima kasih pernah ada. Terima kasih telah singgah. Terima kasih telah mengisi sepi lalu pergi lagi. Terima kasih untuk semua hal yang telah dilalui. Jika kamu lelah berpetualang, aku yakin kamu tahu kemana harus pulang.

Comments