Perkenalan Kita Sepertinya akan Berakhir
Baru saja aku menutup ponselku setelah
berjam-jam aku berkeluh kesah dengan sahabat terbaikku. Sisa-sisa air mata ini
masih terbendung diujung kelopak mata. Aku menulis ini dengan sekuat hati
menahan air mataku untuk tidak jatuh lagi. Setelah beberapa hari aku harus
mengumpulkan segala keberanianku. Akhirnya tengah malam itu, dengan takut-takut
aku bertanya atas perubahan sikapmu. Kamu menjawab pesanku dengan kaku dan
tiba-tiba pergi tanpa permisi. Perkenalan kita tak berjalan sejauh yang pernah
kuharapkan, malah berhenti sesingkat ini? Gadis yang dulu tak berkawan yang
sering kau lihat dari kejauhan, kemudian kamu datang menunjukkan pelangi agar
bisa aku nikmati justru sekarang kamu menambahkan warnanya hingga kini tak
indah lagi. Jika kamu tahu aku tak lagi dalam hubungan yang nyaman, namun sudah
dalam tahap takut kehilangan.
Sejak rasa rindu berubah jadi butuh, aku sangat
takut terjebak pada status yang akhirnya menyakitiku. Tapi semua terlambat, aku
terlanjur terperosok dalam lubang ketidakjelasan. Sayang, aku sudah berada dalam
keadaan ketakutan. Kamu sudah jauh berlari hingga aku kebingungan untuk
mencari. Kamu sudah menerbangkanku terlalu tinggi dan aku takut pada akhirnya
aku harus jatuh sendiri. Kamu terlalu sakti untuk bisa ku mengerti.
Akhirnya semua ketakutanku telah jadi nyata
sekarang. Kamu dengan beraninya pergi saat aku sedang dalam keadaan sangat
nyaman denganmu. Kamu dengan seenaknya pergi saat aku telah meletakkan sosokmu
disudut hati yang paling dalam. Kamu sudah membuatku mati hipotermia karena
sikap dinginmu. Dan semua itu terjadi karena kamu bosan dengan hubungan yang
tak sehat ini. Dan sialnya kamu telah lama sadar bahwa kamu sangat tak suka
pada hubungan yang tak memiliki status yang jelas seperti “kita”. Lalu kenapa
kamu membiarkanku larut dengan rasa nyaman yang kamu ciptakan. Kenapa kamu
memperbolehkanku terkesan dengan semua perlakuan manis yang kamu tunjukkan. Kamu
sengaja memberiku luka yang terbungkus perhatian. Gadis bodoh ini memang tak
pernah paham caramu berpikir.
Aku baru sadar bahwa dari awal memang tak
pernah ada “kita”, yang ada hanya aku dan kamu. Sayang, sampai detik ini pun
aku masih takut kehilangan kenangan-kenangan yang pernah kita kumpulkan dulu.
Aku percaya kamu tak ingin mengakhiri perkenalan kita, kamu hanya ingin
memiliki waktu sendiri. Sangat berat menahanmu untuk tetap disini jika ingat
aku dan kamu tak memiliki status yang sering dibicarakan orang-orang. Aku janji
tak akan mengikutimu berkelana. Tapi jika kamu ingin pulang ketuk saja pintu
itu, aku akan segera membuka dan menerima dengan senyuman sehangat dulu.
Comments
Post a Comment